Kamis, 10 Maret 2016

Tugas 2 Cerpen



Cinta Siku-Siku
            Di salah satu kampus ternama di Kota Bandung, terlahir persahabatan yang erat, mereka sudah bersahabat sejak duduk di kelas 1 SMP, dua sahabat yang mempunyai sifat yang sangat berlawanan, tapi tidak mengurangi rasa persahabatan mereka.
            Fadli dan Arif senang sekali mengikuti organisasi dari SMP tak ada yang bisa melepaskan dari simpul erat persaudaraan diorganisasi, di sa’at beranjak kuliah mengikuti organisasi HIMA, tepatnya HIMA Biologi. Sudah sejak setahun yang lalu mereka mengikuti HIMA Biologi tersebut. Tahun ini mereka akan mengadakan LDK bagi mahasiswa baru dan mereka menjadi panitianya. Sepulang kuliah mereka mengadakan rapat, membahas acara apa saja yang akan mengisi LDK tahun ini.
            Suasana rapat masih terasa, apalagi ketua HIMA Biologi angkat bicara, tetapi Fadli telah teralihkan perhatiannya, kepada wanita berhijab bermata teduh yang telah menaungi terik liku kehidupan Fadli. Nida, nama wanita itu. Nida dengan tidak sengaja mendaftarkan dirinya di hati Fadli.
            Fadli tercengang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengucapkan “subhanallah,” Arif sudah tau pasti kenapa sahabatnya ini. Ketika melihat wanita berparas cantik nan elok dan memakai hijab, pasti sudah kebiasaan yang tak mungkin hilang dari Fadli itu terjadi. Arifpun memcoba mengalihkan pandangannya ke wanita yang sedari tadi telah dilirik oleh Fadli. Arif merasa dadanya terasa terisi cahaya yang menerangi setiap ruang hati Arif, diam-diam Arif menyimpan rasa dengan Nida, tanpa sepengatahuan Fadli.
            “Sudah Fad, samperin aja, ngapain diplototin terus nanti loncat tuh mata!” ejek Arif disamping Fadli.
            “Siapa yang memplototin Rif, aku hanya menatap indah makhluk tuhan di seberang sana, kenapa bidadari ada di siang bolong begini ya ?” mata Fadli bersinar penuh kekaguman dan hatinya yang sedari tadi tentram dalam balutan kebahagian yang meluap-luap.
            “Bahasamu Fad, seperti sastrawan dadakan aja,” Arif cekikikan, disusul tawa Fadli.
            Arif dan Fadli tertawa lepas, tetapi tawa mereka dipecahkan oleh teguran Bram, ketua HIMA Biologi yang telah usai dengan bicaranya panjang lebar, yang terkadang tak dapat dipahami anggota HIMA Biologi lainnya.
            Siapa yang tidak tertarik dengan Nida perawakannya tinggi, badan yang selalu dijaga agar tetap langsing, kulit putih bersih, postur muka tirus, dan mata sayu. Usai rapat LDK berlangsung Arif mengajak Fadli untuk mengenal Nida.
            “Hai dari angkatan berapa ?” sembari melempar senyum khas play boy cap kaki tiganya.
            “Angkatan laut kali atau mungkin angkatan darat tuh,” belum sempat Nida menjawab Fadli menjawab dulu dan jawabannya sangat tidak logis. Nida hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Fadli barusan.
            “Dari angkatan 2014 ka,” jawab Nida dengan wajah ditundukannya.
            “Aku dari angkatan 2014 juga ka dan namaku Kila. Kaka dari angkatan 2014 kan ?” sambar Kila dengan cengengesan.
            Arif mendekati Kila menatap dari atas ke bawah, seperto tatapan merendahkan. Namun Kila tidak merasa dirinya direndahkan, dia malah senyum-senyum tidak jelas di hadapan Arif play boy yang terkenal sampai pelosok kampus.
            “Siapa yang nanya? Jangan sok kecantikan deh kamu, baju kaya orang-orang sawah gitu,” suara Arif terdengar keseluruh ruangan. Beruntung Kila tidak dipermalukan di depan anggota HIMA yang lain, karena rapat sedari tadi telah selesai, menyisakan 2 orang yang sedang beradu argumen dan 2 yang lainnya hanya bisa menyaksikan.
            Kila sangat kesal, tanpa pikir panjang lagi dia injak kaki Arif dengan kekuatan penuhnya. Kila yang tubuhnya gempal tidak susah baginya melucuti Arif yang berpostur tubuh cungkring.
            “Aaaaaaaaaaaaaaa ....” rintih Arif sejadi-jadinya, Fadli yang dari tadi senyum-senyum kaya orang senewan terperanjat mendengar rintihan Arif.
            “Dasar tarzan kampus, titel aja mahasiswa mulut gak bisa dijaga,” ketus Kila, mungkin rambut Arif yang panjangnya seleher yang menjadikan Kila memberikan cacian tarzan kampus tersebut.
            Emosi Kila tak terbendung. Nida yang sedari tadi menyaksikan mencoba menurunkan emosi Kila.
            “Sabar Kil, tahan emosimu,ingat dia kaka tingkat kita!” sambil memegangi bahu Kila.
            “Udah Nid, kita pergi aja! Muak aku liat tarzan kampus ini,” memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari ruangan bersama Nida.
            Dari luar terdengar suara adzan zuhur yang berkumandang tidak jauh dari tempat mereka rapatkan. Menyadarkan Fadli yang seraya memandangi Nida beranjak pergi. Arif masih dalam rintihan yang teramat. Fadli membantu Arif berjalan karena kaki sebelah kanannya bengkak, baru diinjak kaki sebesar kaki gajah. Mereka juga beranjak dari ruangan HIMA Biologi.
            “Kamu juga Rif asal ngomong, wanita mana yang tidak sakit hati dibilang baju kaya orang-orang sawahlah.”
            “Awas saja nanti kubalas gajah Thailand itu, aduh… aduh… pelan-pelan Fad!” sambil memegangi kaki kanannya dan Fadli mendudukkan Arif dengan hati-hati.
            “Kamu duduk di sini saja dulu, aku mau menjalankan kewajibanku sebagai muslim.”
            “Iya, nanti aku bisa saja pulang duluan, do’ain aja biar cepat sembuh!” sambil memijat-mijat kakinya yang tampak penyok ibarat kaleng terlindas truk.
            Usai shalat dilihatnya di barisan saf perempuan “Nida!” Fadli bergumam, Nida sedang merapikan mukenanya sehabis shalat. Alangkah senang hati Fadli. Batinnya merasakan kesejukan, sholehah betul wanita itu. Tapi dia tau, belum pantaslah sa’atnya dia memiliki makhluk tuhan itu sekarang.
            Jarak kos dengan kampus yang tak begitu jauh memutuskan Fadli berjalan kaki. Diperjalanan pulang Fadli melihat diboncengi wanita. Fadli tidak merasa heran jikalau Arif diboncengi wanita itu setiap hari malahan, dengan wanita yang berbeda-beda pula. Dia herannya cepat sekali dia sembuh padahal baru beberapa sa’at mendapati sahabatnya itu dalam rintih sakit.
            Masih beruntung nasib Fadli ketimbang Arif yang berada dalam situasi keluarga broken home, tak jarang Arif tak pulang ke rumah tapi dia menginap di kos Fadli. Seperti anak broken home lainnya pasti si anak kurang mendapatkan kasih sayang oleh orangtuanya. Maka dari itu mereka mencari kasih sayang di luar rumahnya. Sejak duduk di bangku SMP ibunya meninggal dikarenakan kekerasan yang diterima ibunya setiap hari oleh tangan dingin ayahnya.
            “Kita malam ini akan makan malam bersama ibu barumu Rif, kamu harus ikut kali ini!” ajak ayahnya dengan tegas.
            “Ma’af ayah! Arif malam ini ada tugas kelompok bersama Fadli dan Arif mungkin menginap di kos Fadli malam ini,” Arif mencari-cari alasan karena kebenciannya dengan ayahnya itu sudah mendarah daging.
            Tanpa mengucapkan pamit kepada ayahnya Arif langsung beranjak pergi menuju kos Fadli mengendarai kendaraan ninjanya.
            “Fad, kamu ada di dalam? Ini aku Arif,” sambil mengetok pintu kos Fadli.
            “Tunggu sebentar!” mendekati pintu dan membukakan pintu.
            “Ada apa lagi Rif?” menutup pintu kembali
            “Biasalah, ayahku mengajakku menemui istri barunya itu” ucap Arif sembari menaruh tasnya di lantai kos.
            “Temuilah sesekali Rif, toh dia ibumu jugakan, tidak ada salahnya kok!” cerocos Fadli sambil  membolak-balikan halaman buku yang di bacanya.
            “Memang Fad ibu tiriku itu tidak tau menau tentang masalah keluargaku, yang kubenci aku harus menuruti keinginan ayahku, sudah terlampau sakit hatiku Fad dengan ayahku itu.”
            “Setidaknya hargai ajakan ayahmu kali ini Rif! Sebelum kau menyesal dikemudian hari, katamu ibu tirimu itu mempunyai seorang anak perempuan dari suaminya yang dulu, siapa tau cantik Rif, comblangin samaku jika cantik ya!” Fadli menyunggingkan senyumnya.
            “Dasar jones kamu Fad! Iya nanti kupikir-pikir lagi menemuinya atau tidak.”
            “Kamu tidur saja duluan, aku nanggung nyelesain baca buku ini dulu!”
            “Nanti aja, rajin betul kamu Fad baca buku anatomi tubuh manusia, eh ngomong-ngomong kamu suka ya sama Nida Fad? Tatapanmu sangat berbeda dengannya.” mengambil bantal dan tiarapan.
            “Biasa aja, cuma kagum aja,” membenamkan kepalanya ke dalam buku karena tersipu malu dengan ucapan Arif.
            “Iya nih biasa aja, awas nanti keduluan aku ya!” canda Arif yang padahal memang benar dia menyimpan rasa kepada Nida.
            Kedua sahabat itu tertawa renyah di malam yang senyap itu.
            Rapat yang kedua diselenggarakan. Rapat kali kedua ini untuk memantapkan acara yang akan diselenggarakan. Fadli mendengarkan dengan seksama penjelasan panitia acara, berbeda dengan Arif yang tidur di belakang pojok kanan ruangan.
            Dua jam berlalu, rapat telah selesai, Fadli membangunkan Arif yang masih saja pulas dalam mimpi tak berujungnya.
            “Kebakaran, banjir, tsunami, bangun Rif sudah kiamat!” kejut Fadli di telinga Arif.
            “Hah kiamat, tidaaakkk . . . aku belum sempat taubat, nikah juga belum.” Arif tergopoh-gopoh mendengar ucapan Fadli dan bersembunyi ke bawah meja.
            Semua anggota HIMA Biologi terbahak-bahak melihat kelakuan Arif dan kenakalan Fadli.
            “Siapa suruh ketika rapat tidur! Itu akibatnya.”
            “Tega benar kamu Fad, kukira beneran sudah kiamat,” keluar dari meja dan memicingkan matanya.
            Kila menghampiri Arif yang masih dengan rambut acak-acakan. Arif mempunyai firasat tidak baik kali ini, karena pertemuan pertama dengannya membuahkan kaki penyok.
            “Ma’af soal kemarin ka, aku terbawa emosi, kaka juga si ngatain begitu,” menyodorkan tangan kanannya.
            Arif yang dari tadi takut berubah menjadi kebingungan, cepat betul sifatnya berubah seperti siklus pertumbuhan nyamuk. Terkadang cinta membuat semuanya tidak logis begitulah yang dirasakan Kila sekarang, walaupun dihina tetap saja dia memperjuangkannya.
            “Segampang itu kamu minta ma’af, liat tuh kakiku hampir-hampir diamputasi,” Arif memanas lalu beranjak keluar ruangan, Kila mengejarnya.
            Nida yang sedari tadi menemani Kila untuk meminta ma’af ikut keluar, Fadli terheran-heran lalu ikut juga mengejar Arif. Tepat di depan pintu Nida dan Fadli bertabrakan karena sama tergesa-gesa hendak mengejar. Mereka sama-sama terjatuh buku yang dipegang Nida behambur tak karuan. Fadli yang melihat segera memungutnya satu persatu. Tepat disalah satu novel yang berjudul “Cinta” karya Bernard Batu Bara mereka bersamaan memegang buku itu. Membuat keduanya terkejut.
            “Ma’af aku tadi buru-buru mengejar Arif?” ucap Fadli memecah kegugupan diantara masing-masing.
            “Iya, ma’af juga ka,” wajah Nida memerah, dia hanya bisa menundukan pandangannya.
            “Lebih baik kita cari mereka bersama-sama!” ajak Fadli kepada Nida sembari memberikan buku yang telah dipungutnya tadi.
            “Iya boleh ka,”sembari menyambut novel “Cinta” karya Bernard Batu Bara yang isinya menguak pahit manisnya cinta.
            Mereka mendapati Arif dan Kila di taman kampus dekat ruangan HIMA Bahasa dan Sastra Indonesia. Kila sedang memegangi tangan Arif merengek minta ma’af, Arif yang tak berkutik karena badan Kila yang melampaui dirinya.
            “Ma’afin aja Rif, jangan memperpanjang masalah!” Fadli menepuk belakang Arif.
            “Tapi Fad…” hendak menjawab pertanyaan Fadli, tapi duluan dipotong Fadli.
            “Tidak usah tapi-tapian, kita di HIMA ini keluargakan?”
            “OK, aku ma’afkan, tapi lepasin peganganmu Kil, nanti lepas lenganku lagi” canda Arif sembari cengengesan.
            “Tuh kan mulai lagi, mau dipatahin nih tangannya?” memasang wajah kesal kepada Arif.
            “Eh, jangan-jangan!” serempak Nida, Fadli, dan Arif menjawab.
            “Hehe…cuman bercanda, sebagai tanda ma’af kaka aku traktir makan, Nida dan ka Fadli boleh ikut,” melepaskan pegangan tangannya.
            “Iya boleh-boleh,” Arif mengiyakan saja ajakan Kila takut hal buruk apa lagi yang menimpanya jika mengindahkan ajakan itu.
            Di kantin Fadli dan Nida hanya bisa melempar pandangan tanpa sepatah katapun yang keluar. Di lain sisi Arif begitu tersiksa dengan cerocosan Kila yang tak ada habisnya seperti ibu-ibu arisan yang sudah berkumpul.
            Sehabis makan mereka kembali menjalankan kesibukan masing-masing, Arif singgah sebentar ke kos Fadli, Nida seperti biasanya bersemayam di perpustakaan, sedangkan Kila ikut saja dengan Nida. Bukannya membaca buku tapi dia malah memainkan hand phone canggihnya dan membawa banyak cemilan.
            Malam ini kembali Ayah Arif mengajak Arif untuk menemui ibu tirinya itu. Kali ini berbeda Arif mengiyakan ajakan Ayahnya itu. Dia teringat nasihat sahabatnya Fadli. Malam itu ayahnya mengajak makan malam di salah satu rumah makan tersohor di Bandung.
            Arif dan Ayahnya sudah duduk, mereka menunggu kedatangan ibu tirinya itu. Selang 10 menit dilihatnya dari jarak 10 meter wanita berparas cantik dan masih muda. Dia mengira, mungkin itulah ibu tirinya yang akan menuaikan kasih sayang selanjutnya, walaupun di hati Arif takkan pernah ada yang bisa menggantikan singgah sana ibu kandungnya.
            Alangkah terkejutnya Arif melihat perempuan di belakang yang mengikuti ibu tirinya.
            “Nida!” ucap Arif dengan perasaan terkejut.
            “Arif!” Nida yang melihat Arif juga berbalik terkejut.
            “Jadi kamu…” Arif tergagap melanjutkan perkataannya.
            “Aku pun tak menyangka akan begini jadinya Rif, tapi inilah kenyataannya,” mencoba menjelaskan kebenaran yang sudah berada di hadapan mereka.
            “Jadi kalian sudah saling kenal, baguslah, ayo duduk dulu! suruh Ayah Arif kepada Nida dan Arif.
            Sejak pertemuan makan malam yang mengejutkan malam tadi. Arif mencoba menjalin komunikasi baik dengan ayahnya dan mereka mencoba membangun keluarga yang utuh kembali. Karena kampus Arif dan adik tirinya Nida sama, maka diputuskanlah  untuk bersama-sama ke kampus.
            Ketika sesampainya di kampus Fadli melihat dua orang yang tak asing baginya melintas. Arif dan Nida disatu kendaraan yang sama. Fadli merasa ditikam oleh sahabatnya sendiri. Harapannya dapat bersanding dengan Nida pupuslah sudah. Jika cinta melekat tahi kambing pun rasa coklat, istilah itu takkan berlaku lagi bagi Fadli. Sekarang dia merasakan hal sebaliknya.
            Arif memarkikan kendaraannya dan akan menyampaikan berita bahagia yang didapatnya malam tadi.
            “Fadli, Fad …” teriakan Arif tertahan ketika melihat Fadli malah menjauh bukan mengahampirinya.
            Arif merasa bingung ada apa gerangan sahabatnya ini tidak seperti biasanya. Langkah Arif melemah melihat Fadli menjauh. Fadli kalut, dia mengasingkan diri lalu memutuskan untuk tidak menemui Arif terlebih dahulu, untuk menenangkan kekalutan dirinya.
            Satu minggu sudah Arif tak mendapati sahabatnya sedari SMP itu. Arif memegangi dadanya terasa teramat perih. Ini bukan kali pertama dia merasakan itu. Fadli sering sudah menyarankan untuk pergi berobat ke dokter. Tapi Arif menimpalinya dengan jawaban “tidak apa-apa, cuma sakit biasa”.
            BRUKKK ….
            Arif tumbang sakit yang kini dia tahan selama ini sudah mencapai ambangnya. Sejak menghilangnya Fadli, Arif terus saja mencari Fadli. Dia tak pernah mengatur jadwal makannya, terkadang sehari bisa tidak makan. Mungkin itu yang membuat sakitnya itu menjadi kronis.
            “Kaka kenapa? Siapa saja tolong!” Nida panik melihat kakanya ambruk tepat di hadapannya.
            “Ka Arif jangan mati dulu! Kita belum nikah ka,” cerocos Kila dengan derai air mata dan penuh percaya dirinya dia mengatan itu. Memang semenjak menghilangnya Fadli, Kila  telah menjalin kasih sayang dengan Arif. Hati Arif luluh sudah sebagaimana batu yang akan terkikis juga bila selalu terkena tetesan air. Walaupun Kila dengan perjuangan dan pengorbanan penuh caci maki oleh Arif, dia selalu menimpali caci maki itu dengan senyuman.
            Selang beberapa menit Arif ambruk, Arif langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Sepanjang malam Arif selalu mengigau memanggil nama Fadli. Betapa rindunya Arif dengan sahabat satu perjuangan itu.
            Di suatu sisi karena betapa tersiksanya Nida melihat kesakitan yang diderita kaka tirinya itu. Nida berusaha sekuat yang dia bisa untuk menemukan di mana gerangan Fadli bersembunyi dari kekalutan hatinya.
            Selang dua hari setelah tragedi Arif ambruk. Nida mengetahui di mana Fadli berada dari ibu kos tempatnya dulu bersenda gurau dengan Arif. Fadli berada di tempat pamannya, dia mengahabiskan waktu di sana membantu pamannya berkebun dan mendekatkan diri kepada sang pemilik hati manusia.
            “Ka, sebaiknya kaka segera menjenguk ka Arif, sebelum menyisakan penyesalan mendalam!” dengan suara lirih Nida berucap.
            “Ada apa dengan Arif?” Fadli terperanjat mendengar hal itu, dia baru selesai mengurus kebun pamannya.
            “Kakaku ka Arif dilarikan ke rumah sakit, karena penyakit Livernya yang sudah kronis.” Nida yang sedari tadi menahan air mata di pepuk matanya. Tak ayal, mengalir jua ar mata itu.
            “Jadi Arif kakamu Nid? Apa Liver? Jadi itu penyakit yang selama ini dia derita dan tahan-tahan di depanku,” sungguh terkejut bukan kepalang Fadli mendengar perihal itu.
            “Iya, tepatnya dia kaka tiriku ka,” ucap Nida dengan masih bersimbah air mata.
            Batin Fadli merasakan bersalah yang teramat, selama ini dia hanya memburuk keadaan Arif. Juga selama ini dia berburuk sangka dengan sahabatnya sendiri. Dia tak mempercayai sahabatnya itu. Hanya termakan muslihat ego dirinya. Cinta membutakan segalanya yang ada, tanpa pandang bulu.
            Tersadar akan satu hal Fadli bahwa penyakit sahabatnya itu, karena kebencian mendalam kepada ayahnya dulu yang hanya disimpan di hatinya hingga membusuk menjadi penyakit Liver. Dijenguknya Arif yang sudah berjuang melawan penyakitnya. Di lihatnya Arif terbaring dengan sekujur tubuh berwarna kuning, Fadli tertegun melihat Arif. Kila juga menemani Arif yang hanya bisa memegangi erat tangan Arif dengan bulir-bulir bening di mata yang berjatuhan.
            “Oh, sobat maafkan aku menghilang menjauhimu, karena perasaan bodohku ini?” Fadli berlinang air mata tertunduk di samping tempat berbaring Arif.
            “Tak apa Fad, seharusnya aku cepat memberitahumu untuk klarifikasi apa yang terjadi aku dengan Nida,” Arif masih sempat tersenyum walau dengan penyakit yang menggrogoti tubuhnya.
            “Kutitipkan Adikku Nida kepadamu Fad, kuyakin betul kau pati bisa menjadi imam terbaik baginya,” Arif dengan suara lirih berucap.
            “Aku pasti akan menjaganya sampai ujung hayatku Rif, bersama-sama lagi kita akan mengukir kebahagian.”
            “Maafkan aku sobat, tubuhku sudah tak bisa lagi menahan sakit yang tak terelakkan ini, tapi aku sudah sangat bahagia, akhirnya keluargaku bisa utuh kembali, akan kukatakan itu pada ibu kandungku di alam sana nanti,” kata terakhir yang diucapkan Arif di detik-detik dia merenggang nyawa dan masih dengan senyum ramahnya.
            Semua seakan tersihir sejenak, kemudian suasana pecah akan tangis yang meluap-luap tanpa hentinya. Suasana mengharu biru, mereka semua memeluk Arif dalam keadaan bersimbah air mata. Ayah Arif merangkul erat ibu tiri Arif yang sedari tadi menagis secegukan.
            Dulu hidup bagi Arif hanya sebatas patamorgana, sulit baginya untuk mendapat kebahagian sebenarnya. Setelah secercah harapan muncul dari sahabatnya Fadli yang selalu memberi wejangan-wejangan bermakna. Dia seakan mencium kembali semerbak impian yang lama terkubur dalam benaknya. Mekar dalam lantuanan syair-syair cinta dan sahabat

0 komentar:

Posting Komentar