Cinta
Siku-Siku
Di salah satu kampus ternama di Kota
Bandung, terlahir persahabatan yang erat, mereka sudah bersahabat sejak duduk
di kelas 1 SMP, dua sahabat yang mempunyai sifat yang sangat berlawanan, tapi
tidak mengurangi rasa persahabatan mereka.
Fadli dan Arif senang sekali mengikuti
organisasi dari SMP tak ada yang bisa melepaskan dari simpul erat persaudaraan
diorganisasi, di sa’at beranjak kuliah mengikuti organisasi HIMA, tepatnya HIMA
Biologi. Sudah sejak setahun yang lalu mereka mengikuti HIMA Biologi tersebut.
Tahun ini mereka akan mengadakan LDK bagi mahasiswa baru dan mereka menjadi
panitianya. Sepulang kuliah mereka mengadakan rapat, membahas acara apa saja
yang akan mengisi LDK tahun ini.
Suasana rapat masih terasa, apalagi
ketua HIMA Biologi angkat bicara, tetapi Fadli telah teralihkan perhatiannya,
kepada wanita berhijab bermata teduh yang telah menaungi terik liku kehidupan
Fadli. Nida, nama wanita itu. Nida dengan tidak sengaja mendaftarkan dirinya di
hati Fadli.
Fadli tercengang sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengucapkan “subhanallah,” Arif sudah tau
pasti kenapa sahabatnya ini. Ketika melihat wanita berparas cantik nan elok dan
memakai hijab, pasti sudah kebiasaan yang tak mungkin hilang dari Fadli itu
terjadi. Arifpun memcoba mengalihkan pandangannya ke wanita yang sedari tadi
telah dilirik oleh Fadli. Arif merasa dadanya terasa terisi cahaya yang
menerangi setiap ruang hati Arif, diam-diam Arif menyimpan rasa dengan Nida,
tanpa sepengatahuan Fadli.
“Sudah Fad, samperin aja, ngapain
diplototin terus nanti loncat tuh mata!” ejek Arif disamping Fadli.
“Siapa yang memplototin Rif, aku
hanya menatap indah makhluk tuhan di seberang sana, kenapa bidadari ada di
siang bolong begini ya ?” mata Fadli bersinar penuh kekaguman dan hatinya yang
sedari tadi tentram dalam balutan kebahagian yang meluap-luap.
“Bahasamu Fad, seperti sastrawan
dadakan aja,” Arif cekikikan, disusul tawa Fadli.
Arif dan Fadli tertawa lepas, tetapi
tawa mereka dipecahkan oleh teguran Bram, ketua HIMA Biologi yang telah usai
dengan bicaranya panjang lebar, yang terkadang tak dapat dipahami anggota HIMA
Biologi lainnya.
Siapa yang tidak tertarik dengan
Nida perawakannya tinggi, badan yang selalu dijaga agar tetap langsing, kulit
putih bersih, postur muka tirus, dan mata sayu. Usai rapat LDK berlangsung Arif mengajak Fadli untuk mengenal Nida.
“Hai
dari angkatan berapa ?” sembari melempar senyum khas play boy cap kaki tiganya.
“Angkatan
laut kali atau mungkin angkatan darat tuh,” belum sempat Nida menjawab Fadli
menjawab dulu dan jawabannya sangat tidak logis. Nida hanya tersenyum simpul
mendengar perkataan Fadli barusan.
“Dari
angkatan 2014 ka,” jawab Nida dengan wajah ditundukannya.
“Aku
dari angkatan 2014 juga ka dan namaku Kila. Kaka dari angkatan 2014 kan ?” sambar Kila dengan cengengesan.
Arif
mendekati Kila menatap dari atas ke bawah, seperto tatapan merendahkan. Namun
Kila tidak merasa dirinya direndahkan, dia malah senyum-senyum tidak jelas di
hadapan Arif play boy yang terkenal sampai pelosok kampus.
“Siapa
yang nanya? Jangan sok kecantikan deh kamu, baju kaya orang-orang sawah gitu,”
suara Arif terdengar keseluruh ruangan. Beruntung Kila tidak dipermalukan di
depan anggota HIMA yang lain, karena rapat sedari tadi telah selesai,
menyisakan 2 orang yang sedang beradu argumen dan 2 yang lainnya hanya bisa
menyaksikan.
Kila
sangat kesal, tanpa pikir panjang lagi dia injak kaki Arif dengan kekuatan
penuhnya. Kila yang tubuhnya gempal tidak susah baginya melucuti Arif yang
berpostur tubuh cungkring.
“Aaaaaaaaaaaaaaa
....” rintih Arif sejadi-jadinya, Fadli yang dari tadi senyum-senyum kaya orang
senewan terperanjat mendengar rintihan Arif.
“Dasar
tarzan kampus, titel aja mahasiswa mulut gak bisa dijaga,” ketus
Kila, mungkin rambut Arif yang panjangnya seleher yang menjadikan Kila
memberikan cacian tarzan kampus tersebut.
Emosi
Kila tak terbendung. Nida yang sedari tadi menyaksikan mencoba menurunkan emosi
Kila.
“Sabar
Kil, tahan emosimu,ingat dia kaka tingkat kita!” sambil memegangi bahu
Kila.
“Udah
Nid, kita pergi aja! Muak aku liat tarzan kampus ini,” memalingkan wajahnya dan
beranjak pergi dari ruangan bersama Nida.
Dari
luar terdengar suara adzan zuhur yang berkumandang tidak jauh dari
tempat mereka rapatkan. Menyadarkan Fadli yang seraya memandangi Nida beranjak
pergi. Arif masih dalam rintihan yang teramat. Fadli membantu Arif berjalan
karena kaki sebelah kanannya bengkak, baru diinjak kaki sebesar kaki gajah.
Mereka juga beranjak dari ruangan HIMA Biologi.
“Kamu juga Rif asal ngomong, wanita
mana yang tidak sakit hati dibilang baju kaya orang-orang sawahlah.”
“Awas saja nanti kubalas gajah
Thailand itu, aduh… aduh… pelan-pelan Fad!” sambil memegangi kaki kanannya dan
Fadli mendudukkan Arif dengan hati-hati.
“Kamu duduk di sini saja dulu, aku
mau menjalankan kewajibanku sebagai muslim.”
“Iya, nanti aku bisa saja pulang
duluan, do’ain aja biar cepat sembuh!” sambil memijat-mijat kakinya yang tampak
penyok ibarat kaleng terlindas truk.
Usai shalat dilihatnya di barisan saf
perempuan “Nida!” Fadli bergumam, Nida sedang merapikan mukenanya sehabis
shalat. Alangkah senang hati Fadli. Batinnya merasakan kesejukan, sholehah
betul wanita itu. Tapi dia tau, belum pantaslah sa’atnya dia memiliki makhluk
tuhan itu sekarang.
Jarak kos dengan kampus yang tak
begitu jauh memutuskan Fadli berjalan kaki. Diperjalanan pulang Fadli melihat
diboncengi wanita. Fadli tidak merasa heran jikalau Arif diboncengi wanita itu
setiap hari malahan, dengan wanita yang berbeda-beda pula. Dia herannya cepat
sekali dia sembuh padahal baru beberapa sa’at mendapati sahabatnya itu dalam
rintih sakit.
Masih beruntung nasib Fadli
ketimbang Arif yang berada dalam situasi keluarga broken home, tak jarang Arif
tak pulang ke rumah tapi dia menginap di kos Fadli. Seperti anak broken home
lainnya pasti si anak kurang mendapatkan kasih sayang oleh orangtuanya. Maka
dari itu mereka mencari kasih sayang di luar rumahnya. Sejak duduk di bangku
SMP ibunya meninggal dikarenakan kekerasan yang diterima ibunya setiap hari oleh
tangan dingin ayahnya.
“Kita malam ini akan makan malam bersama
ibu barumu Rif, kamu harus ikut kali ini!” ajak ayahnya dengan tegas.
“Ma’af ayah! Arif malam ini ada
tugas kelompok bersama Fadli dan Arif mungkin menginap di kos Fadli malam ini,”
Arif mencari-cari alasan karena kebenciannya dengan ayahnya itu sudah mendarah
daging.
Tanpa mengucapkan pamit kepada
ayahnya Arif langsung beranjak pergi menuju kos Fadli mengendarai kendaraan
ninjanya.
“Fad, kamu ada di dalam? Ini aku
Arif,” sambil mengetok pintu kos Fadli.
“Tunggu sebentar!” mendekati pintu
dan membukakan pintu.
“Ada apa lagi Rif?” menutup pintu
kembali
“Biasalah, ayahku mengajakku menemui
istri barunya itu” ucap Arif sembari menaruh tasnya di lantai kos.
“Temuilah sesekali Rif, toh dia
ibumu jugakan, tidak ada salahnya kok!” cerocos Fadli sambil membolak-balikan halaman buku yang di
bacanya.
“Memang Fad ibu tiriku itu tidak tau
menau tentang masalah keluargaku, yang kubenci aku harus menuruti keinginan
ayahku, sudah terlampau sakit hatiku Fad dengan ayahku itu.”
“Setidaknya hargai ajakan ayahmu
kali ini Rif! Sebelum kau menyesal dikemudian hari, katamu ibu tirimu itu
mempunyai seorang anak perempuan dari suaminya yang dulu, siapa tau cantik Rif,
comblangin samaku jika cantik ya!” Fadli menyunggingkan senyumnya.
“Dasar jones kamu Fad! Iya nanti
kupikir-pikir lagi menemuinya atau tidak.”
“Kamu tidur saja duluan, aku
nanggung nyelesain baca buku ini dulu!”
“Nanti aja, rajin betul kamu Fad
baca buku anatomi tubuh manusia, eh ngomong-ngomong kamu suka ya sama Nida Fad?
Tatapanmu sangat berbeda dengannya.” mengambil bantal dan tiarapan.
“Biasa aja, cuma kagum aja,”
membenamkan kepalanya ke dalam buku karena tersipu malu dengan ucapan Arif.
“Iya nih biasa aja, awas nanti
keduluan aku ya!” canda Arif yang padahal memang benar dia menyimpan rasa
kepada Nida.
Kedua sahabat itu tertawa renyah di
malam yang senyap itu.
Rapat yang kedua diselenggarakan. Rapat
kali kedua ini untuk memantapkan acara yang akan diselenggarakan. Fadli mendengarkan
dengan seksama penjelasan panitia acara, berbeda dengan Arif yang tidur di
belakang pojok kanan ruangan.
Dua jam berlalu, rapat telah
selesai, Fadli membangunkan Arif yang masih saja pulas dalam mimpi tak
berujungnya.
“Kebakaran, banjir, tsunami, bangun
Rif sudah kiamat!” kejut Fadli di telinga Arif.
“Hah kiamat, tidaaakkk . . . aku
belum sempat taubat, nikah juga belum.” Arif tergopoh-gopoh mendengar ucapan
Fadli dan bersembunyi ke bawah meja.
Semua anggota HIMA Biologi
terbahak-bahak melihat kelakuan Arif dan kenakalan Fadli.
“Siapa suruh ketika rapat tidur! Itu
akibatnya.”
“Tega benar kamu Fad, kukira beneran
sudah kiamat,” keluar dari meja dan memicingkan matanya.
Kila menghampiri Arif yang masih
dengan rambut acak-acakan. Arif mempunyai firasat tidak baik kali ini, karena
pertemuan pertama dengannya membuahkan kaki penyok.
“Ma’af soal kemarin ka, aku terbawa
emosi, kaka juga si ngatain begitu,” menyodorkan tangan kanannya.
Arif yang dari tadi takut berubah
menjadi kebingungan, cepat betul sifatnya berubah seperti siklus pertumbuhan
nyamuk. Terkadang cinta membuat semuanya tidak logis begitulah yang dirasakan
Kila sekarang, walaupun dihina tetap saja dia memperjuangkannya.
“Segampang itu kamu minta ma’af,
liat tuh kakiku hampir-hampir diamputasi,” Arif memanas lalu beranjak keluar
ruangan, Kila mengejarnya.
Nida yang sedari tadi menemani Kila
untuk meminta ma’af ikut keluar, Fadli terheran-heran lalu ikut juga mengejar
Arif. Tepat di depan pintu Nida dan Fadli bertabrakan karena sama tergesa-gesa
hendak mengejar. Mereka sama-sama terjatuh buku yang dipegang Nida behambur tak
karuan. Fadli yang melihat segera memungutnya satu persatu. Tepat disalah satu novel
yang berjudul “Cinta” karya Bernard Batu Bara mereka bersamaan memegang buku
itu. Membuat keduanya terkejut.
“Ma’af aku tadi buru-buru mengejar
Arif?” ucap Fadli memecah kegugupan diantara masing-masing.
“Iya, ma’af juga ka,” wajah Nida
memerah, dia hanya bisa menundukan pandangannya.
“Lebih baik kita cari mereka
bersama-sama!” ajak Fadli kepada Nida sembari memberikan buku yang telah
dipungutnya tadi.
“Iya boleh ka,”sembari menyambut
novel “Cinta” karya Bernard Batu Bara yang isinya menguak pahit manisnya cinta.
Mereka mendapati Arif dan Kila di
taman kampus dekat ruangan HIMA Bahasa dan Sastra Indonesia. Kila sedang
memegangi tangan Arif merengek minta ma’af, Arif yang tak berkutik karena badan
Kila yang melampaui dirinya.
“Ma’afin aja Rif, jangan
memperpanjang masalah!” Fadli menepuk belakang Arif.
“Tapi Fad…” hendak menjawab pertanyaan
Fadli, tapi duluan dipotong Fadli.
“Tidak usah tapi-tapian, kita di
HIMA ini keluargakan?”
“OK, aku ma’afkan, tapi lepasin
peganganmu Kil, nanti lepas lenganku lagi” canda Arif sembari cengengesan.
“Tuh kan mulai lagi, mau dipatahin
nih tangannya?” memasang wajah kesal kepada Arif.
“Eh, jangan-jangan!” serempak Nida,
Fadli, dan Arif menjawab.
“Hehe…cuman bercanda, sebagai tanda
ma’af kaka aku traktir makan, Nida dan ka Fadli boleh ikut,” melepaskan
pegangan tangannya.
“Iya boleh-boleh,” Arif mengiyakan
saja ajakan Kila takut hal buruk apa lagi yang menimpanya jika mengindahkan
ajakan itu.
Di kantin Fadli dan Nida hanya bisa
melempar pandangan tanpa sepatah katapun yang keluar. Di lain sisi Arif begitu
tersiksa dengan cerocosan Kila yang tak ada habisnya seperti ibu-ibu arisan
yang sudah berkumpul.
Sehabis makan mereka kembali
menjalankan kesibukan masing-masing, Arif singgah sebentar ke kos Fadli, Nida
seperti biasanya bersemayam di perpustakaan, sedangkan Kila ikut saja dengan
Nida. Bukannya membaca buku tapi dia malah memainkan hand phone canggihnya dan
membawa banyak cemilan.
Malam ini kembali Ayah Arif mengajak
Arif untuk menemui ibu tirinya itu. Kali ini berbeda Arif mengiyakan ajakan
Ayahnya itu. Dia teringat nasihat sahabatnya Fadli. Malam itu ayahnya mengajak
makan malam di salah satu rumah makan tersohor di Bandung.
Arif dan Ayahnya sudah duduk, mereka
menunggu kedatangan ibu tirinya itu. Selang 10 menit dilihatnya dari jarak 10
meter wanita berparas cantik dan masih muda. Dia mengira, mungkin itulah ibu
tirinya yang akan menuaikan kasih sayang selanjutnya, walaupun di hati Arif
takkan pernah ada yang bisa menggantikan singgah sana ibu kandungnya.
Alangkah terkejutnya Arif melihat
perempuan di belakang yang mengikuti ibu tirinya.
“Nida!” ucap Arif dengan perasaan
terkejut.
“Arif!” Nida yang melihat Arif juga
berbalik terkejut.
“Jadi kamu…” Arif tergagap
melanjutkan perkataannya.
“Aku pun tak menyangka akan begini
jadinya Rif, tapi inilah kenyataannya,” mencoba menjelaskan kebenaran yang
sudah berada di hadapan mereka.
“Jadi kalian sudah saling kenal,
baguslah, ayo duduk dulu! suruh Ayah Arif kepada Nida dan Arif.
Sejak pertemuan makan malam yang
mengejutkan malam tadi. Arif mencoba menjalin komunikasi baik dengan ayahnya
dan mereka mencoba membangun keluarga yang utuh kembali. Karena kampus Arif dan
adik tirinya Nida sama, maka diputuskanlah
untuk bersama-sama ke kampus.
Ketika sesampainya di kampus Fadli
melihat dua orang yang tak asing baginya melintas. Arif dan Nida disatu
kendaraan yang sama. Fadli merasa ditikam oleh sahabatnya sendiri. Harapannya
dapat bersanding dengan Nida pupuslah sudah. Jika cinta melekat tahi kambing
pun rasa coklat, istilah itu takkan berlaku lagi bagi Fadli. Sekarang dia
merasakan hal sebaliknya.
Arif memarkikan kendaraannya dan
akan menyampaikan berita bahagia yang didapatnya malam tadi.
“Fadli, Fad …” teriakan Arif
tertahan ketika melihat Fadli malah menjauh bukan mengahampirinya.
Arif merasa bingung ada apa gerangan
sahabatnya ini tidak seperti biasanya. Langkah Arif melemah melihat Fadli
menjauh. Fadli kalut, dia mengasingkan diri lalu memutuskan untuk tidak menemui
Arif terlebih dahulu, untuk menenangkan kekalutan dirinya.
Satu minggu sudah Arif tak mendapati
sahabatnya sedari SMP itu. Arif memegangi dadanya terasa teramat perih. Ini
bukan kali pertama dia merasakan itu. Fadli sering sudah menyarankan untuk
pergi berobat ke dokter. Tapi Arif menimpalinya dengan jawaban “tidak apa-apa,
cuma sakit biasa”.
BRUKKK ….
Arif tumbang sakit yang kini dia
tahan selama ini sudah mencapai ambangnya. Sejak menghilangnya Fadli, Arif
terus saja mencari Fadli. Dia tak pernah mengatur jadwal makannya, terkadang
sehari bisa tidak makan. Mungkin itu yang membuat sakitnya itu menjadi kronis.
“Kaka kenapa? Siapa saja tolong!”
Nida panik melihat kakanya ambruk tepat di hadapannya.
“Ka Arif jangan mati dulu! Kita
belum nikah ka,” cerocos Kila dengan derai air mata dan penuh percaya dirinya
dia mengatan itu. Memang semenjak menghilangnya Fadli, Kila telah menjalin kasih sayang dengan Arif. Hati
Arif luluh sudah sebagaimana batu yang akan terkikis juga bila selalu terkena
tetesan air. Walaupun Kila dengan perjuangan dan pengorbanan penuh caci maki
oleh Arif, dia selalu menimpali caci maki itu dengan senyuman.
Selang beberapa menit Arif ambruk,
Arif langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan
intensif. Sepanjang malam Arif selalu mengigau memanggil nama Fadli. Betapa
rindunya Arif dengan sahabat satu perjuangan itu.
Di suatu sisi karena betapa
tersiksanya Nida melihat kesakitan yang diderita kaka tirinya itu. Nida berusaha
sekuat yang dia bisa untuk menemukan di mana gerangan Fadli bersembunyi dari
kekalutan hatinya.
Selang dua hari setelah tragedi Arif
ambruk. Nida mengetahui di mana Fadli berada dari ibu kos tempatnya dulu
bersenda gurau dengan Arif. Fadli berada di tempat pamannya, dia mengahabiskan
waktu di sana membantu pamannya berkebun dan mendekatkan diri kepada sang
pemilik hati manusia.
“Ka, sebaiknya kaka segera menjenguk
ka Arif, sebelum menyisakan penyesalan mendalam!” dengan suara lirih Nida
berucap.
“Ada apa dengan Arif?” Fadli
terperanjat mendengar hal itu, dia baru selesai mengurus kebun pamannya.
“Kakaku ka Arif dilarikan ke rumah
sakit, karena penyakit Livernya yang sudah kronis.” Nida yang sedari tadi
menahan air mata di pepuk matanya. Tak ayal, mengalir jua ar mata itu.
“Jadi Arif kakamu Nid? Apa Liver?
Jadi itu penyakit yang selama ini dia derita dan tahan-tahan di depanku,”
sungguh terkejut bukan kepalang Fadli mendengar perihal itu.
“Iya, tepatnya dia kaka tiriku ka,”
ucap Nida dengan masih bersimbah air mata.
Batin Fadli merasakan bersalah yang
teramat, selama ini dia hanya memburuk keadaan Arif. Juga selama ini dia
berburuk sangka dengan sahabatnya sendiri. Dia tak mempercayai sahabatnya itu.
Hanya termakan muslihat ego dirinya. Cinta membutakan segalanya yang ada, tanpa
pandang bulu.
Tersadar akan satu hal Fadli bahwa
penyakit sahabatnya itu, karena kebencian mendalam kepada ayahnya dulu yang
hanya disimpan di hatinya hingga membusuk menjadi penyakit Liver. Dijenguknya
Arif yang sudah berjuang melawan penyakitnya. Di lihatnya Arif terbaring dengan
sekujur tubuh berwarna kuning, Fadli tertegun melihat Arif. Kila juga menemani
Arif yang hanya bisa memegangi erat tangan Arif dengan bulir-bulir bening di
mata yang berjatuhan.
“Oh, sobat maafkan aku menghilang
menjauhimu, karena perasaan bodohku ini?” Fadli berlinang air mata tertunduk di
samping tempat berbaring Arif.
“Tak apa Fad, seharusnya aku cepat
memberitahumu untuk klarifikasi apa yang terjadi aku dengan Nida,” Arif masih
sempat tersenyum walau dengan penyakit yang menggrogoti tubuhnya.
“Kutitipkan Adikku Nida kepadamu
Fad, kuyakin betul kau pati bisa menjadi imam terbaik baginya,” Arif dengan
suara lirih berucap.
“Aku pasti akan menjaganya sampai
ujung hayatku Rif, bersama-sama lagi kita akan mengukir kebahagian.”
“Maafkan aku sobat, tubuhku sudah
tak bisa lagi menahan sakit yang tak terelakkan ini, tapi aku sudah sangat
bahagia, akhirnya keluargaku bisa utuh kembali, akan kukatakan itu pada ibu
kandungku di alam sana nanti,” kata terakhir yang diucapkan Arif di detik-detik
dia merenggang nyawa dan masih dengan senyum ramahnya.
Semua seakan tersihir sejenak,
kemudian suasana pecah akan tangis yang meluap-luap tanpa hentinya. Suasana
mengharu biru, mereka semua memeluk Arif dalam keadaan bersimbah air mata. Ayah
Arif merangkul erat ibu tiri Arif yang sedari tadi menagis secegukan.
Dulu hidup bagi Arif hanya sebatas
patamorgana, sulit baginya untuk mendapat kebahagian sebenarnya. Setelah
secercah harapan muncul dari sahabatnya Fadli yang selalu memberi
wejangan-wejangan bermakna. Dia seakan mencium kembali semerbak impian yang
lama terkubur dalam benaknya. Mekar dalam lantuanan syair-syair cinta dan
sahabat
0 komentar:
Posting Komentar